Kopi Aroma dari Banceuy bukanlah kopi biasa. Setelah dibeli dan dibersihkan, biji-biji kopi disimpan dalam karung selama bertahun-tahun untuk mengurangi keasaman (acidity), salah satu ukuran kenikmatan kopi. Dengan begitu, selain menjadi semakin nikmat, kopi ini dipercaya tidak mengganggu kerja lambung.
Di dalam toko dipajang mesin kopi klasik, salah satunya buatan Amerika. Mesin kopi jadul ini sudah menggunakan tenaga listrik. Tentu tidak dapat disejajarkan dengan mesin saeco atau keurig k-cup yang mewakili mesin kopi jaman sekarang.

Nah sekarang tentang Arabica dan Robusta. Robusta adalah kopi yang paling kuat, dari aroma, rasa, hingga efek sulit tidur dan debar jantung yang berlebihan. Sementara Arabica memberikan rasa kopi yang ringan, aroma yang lumayan, tapi tidak terlalu mengganggu irama tidur.
Perusahaan ini sejak awal sudah berkembang. Pada 1936 Houw Sian sudah mampu membeli mesin pengolah buatan Jerman merek Probat. Perusahaan ini punya keunikan tersendiri. Bukan saja karena hanya mengolah kopi langsung dari tangan petani di Aceh, Lampung, hingga Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur yang menjadi langganannya. Houw Sian menurunkan tradisi menyimpan dulu kopinya selama beberapa tahun sebelum diolah. Untuk jenis Robusta penyimpanan itu selama 5 tahun, sedangkan jenis Arabika disimpan dulu selama 8 tahun.
Menurut Widya, tradisi itu tetap ia pertahankan karena berkaitan erat dengan kualitas rasa kopi produksi perusahaannya. Malah, rumahnya di Jalan Banceuy No. 51 yang berdiri di atas lahan seluas 1.300 meter persegi itu tetap dipertahankan sebagai tempat penjemuran, gudang penyimpanan, pabrik pengolahan, sekaligus toko.
Kopi yang menggunakan merek dagang Koffie Fabriek Aroma ini rupanya sengaja tak dikembangkan sebagai produksi massal. Widya yang lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran ini punya alasan sendiri untuk tetap bertahan dengan kondisi usahanya itu. Ia tak mau lebih repot bila perusahaan itu menjadi lebih besar lagi.
Seperti ayahnya dulu, Widya turun ke lapangan memilih sendiri biji kopi di perkebunan langganannya. Sebab, ia tetap ingin mempertahankan kualitas rasa kopi produk perusahaannya yang tidak besar itu. Malah, bubuk kopinya yang dijual seharga Rp 30 ribu per kilo untuk jenis Robusta dan Rp 38 ribu per kilo untuk jenis Arabika itu hanya dapat dijumpai di toko Jalan Banceuy itu saja.
Walau demikian, toh, banyak orang mengenal kualitas kopi yang sampai kini masih diolah dengan mesin kuno buatan Jerman itu. Lebih-lebih, orang jadi mudah mengingat merek Aroma setelah singgah di toko berarsitektur art deco itu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar